Headlines News :
Home » » SERTIFIKASI

SERTIFIKASI

Written By samsul mungin on Senin, 20 Desember 2010 | 19.21

PEMENUHAN WAJIB MENGAJAR 24 JAM TATAP MUKA
PERLU KEARIFAN BERSAMA
Pasal 35 ayat (2) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa beban kerja guru sekurang-kurangnya 24 jam tatap muka dan sebanyak-banyaknya 40 jam tatap muka dalam satu minggu.  Kenyataannya tidak semua guru  dapat serta merta memenuhi amanat  Undang-undang tersebut. Bahkan  banyak guru yang berada pada kondisi di luar tuntutan  ideal tersebut. 
Sekolah dengan  jumlah  guru yang terlalu banyak dalam mata pelajaran  tertentu misalnya, jelas akan berdampak pada kurangnya jam mengajar - sering diplesetkan dengan "guru kurang ngajar" (dilafalkan dalam dialek Jawa). Tidak ada masalah dengan predikat tersebut, malah dinikmati sebagai guyonan saja. Akan tetapi, itu dulu.
Sekarang, kekurangan jam mengajar jelas menjadi masalah karena dapat menghambat pemenuhan syarat sertifikasi guru. Terjadi disparitas perolehan kesejahteraan. Muncul    kecemburuan pada   mata pelajaran  yang  jumlah  jamnya lebih banyak dalam struktur kurikulum. Timbul prasangka negatif  terhadap  manajemen sekolah dalam hal  pembagian jam mengajar atau penugasan tambahan. Lahir sikap mengedepankan kepentingan pribadi, dan  mengamankan sahabat dekat. Lebih dari itu  adalah terjadi konflik horisontal yang mengakibatkan iklim kerja yang tidak sehat.
Fenomena tersebut tentu harus  segera disikapi. Perlu kearifan bersama baik pemerintah, manajemen sekolah,  maupun guru itu sendiri dalam mencari jalan keluar pemenuhan wajib mengajar 24 jam tatap muka. Sebagai penentu keputusan dan penetap peraturan,  pemerintah hendaknya akurat dalam penempatan/penyebaran guru baru, atau mutasi guru. Dengan  begitu kasus kelebihan guru dapat diminimalkan. Sementara itu, manajemen sekolah sebagai perancang gerak realita kebijakan sekolah seutuhnya,  hendaknya cermat dalam berhitung kebutuhan jumlah guru mata pelajaran,  selektif menerima tambahan guru baru, serta  menata dengan saksama siklus pemberian tugas tambahan guru.
Suatu penyetaran berarti manakala guru mendapat tugas tambahan. Jika mendapat tugas sebagai kepala sekolah, maka hanya ada kewajiban mengajar 6 jam atau membimbing paling banyak 40 peserta didik. Bila ditugasi sebagai  wakil kepala sekolah, kepala perpustakaan, kepala laboratorium, atau kepala bengkel, maka wajib mengajar paling sedikit 12 jam tatap muka.  Namun, sayang sekali untuk mendapatkan tugas tambahan tersebut peluangnya  terbatas sekali. Dari 60 orang guru di suatu sekolah misalnya, hanya sekitar 12 orang yang dapat terakomodasi oleh tugas tambahan tersebut.
Adapun guru yang belum memenuhi 24 jam tatap muka kiranya perlu berbesar hati untuk berbuat sesuatu. Ada banyak pilihan  yang  bisa dilakukan  seperti yang dikemukakan dalam Pasal 5  ayat (1) Permendiknas Nomor 39 Tahun 2009. Pertama, menambah jam dengan mengajar di sekolah atau madrasah lain baik negeri atau swasta. Kedua menjadi tutor program Paket A, Paket B, Paket C, Paket C Kejuruan atau program pendidikan keaksaraan. Ketiga, menjadi guru bina atau guru pamong pada sekolah terbuka. Keempat, menjadi guru inti/instruktur/tutor pada kegiatan Kelompok Kerja Guru/Musyawarah Guru mata Pelajaran (KKG/MGMP). Kelima, membina kegiatan ekstrakurikuler dalam bentuk kegiatan Pramuka, Olimpiade/Lomba Kompetensi Siswa, Olahraga, Kesenian, Karya Ilmiah Remaja, Kerohanian, Pasukan Pengibar Bendera, Pecinta Alam, Palang Merah Remaja, Jurnalistik/Fotografi, Usaha Kesehatan Sekolah, dan sebagainya. Keenam, membina pengembangan diri peserta didik dalam bentuk kegiatan pelayanan sesuai dengan bakat, minat kemampuan, sikap dan perilaku siswa dalam belajar serta kehidupan pribadi, sosial, dan pengembangan karier diri. Ketujuh, melaksanakan kegiatan pembelajaran bertim (team teaching). Kedelapan, melaksanakan kegiatan pembelajaran perbaikan (remedial teaching). Dalam pelaksanaanya, kegiatan-kegiatan tersebut membutuhkan kreativitas  pengemasan guru dan manajemen sekolah, serta perlu legalitas kepala sekolah, kepala dinas pendidikan kabupaten/kota, dan kepala dinas pendidikan provinsi.
            Pada akhirnya sertifikasi  guru selayaknya kita syukuri sebagai  pengakuan terhadap  kedudukan guru sebagai tenaga  profesional. Berbagai dampak ikutan bergulirnya kebijakan tersebut, termasuk kewajiban mengajar 24 jam tatap muka  mudah-mudahan dapat termaknai, dan menjadi penguat martabat guru.
Samsul Mungin, S.Pd.I
-         PC GP ANSOR Tulang Bawang Barat.
-         PC Forum Martabat Guru Indonesia (FMGI) Tulang Bawang Barat.
-         Guru di MTs Darul Ulum Panaragan Jaya Tulang Bawang Tengah  Tulang Bawang barat.
-        



Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

idth="250" />

Bertawassul Perbuatan yang Dianjurkan

PANDUAN BERWUDHU

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. . - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template